<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Apapun!</title>
	<atom:link href="http://apapun.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apapun.blogdetik.com</link>
	<description>...yang mengusik hati.</description>
	<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 04:57:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Polwan untuk Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2011/12/09/polwan-untuk-anti-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2011/12/09/polwan-untuk-anti-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 03:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini ada yang lain di sudut-sudut jalan raya. Banyak sekali Polisi Wanita (Polwan) yang berkumpul. Sempat berpikir tumben mereka seperti itu.
Sebelum stop di lampu merah, dari kejauhan saya melihat banyak sekali Polwan yang kemudian menghampiri para pengendara kendaraan bermotor yang berhenti di lampu merah. Sempat saya merasa kaget karena saya pikir ada razia atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini ada yang lain di sudut-sudut jalan raya. Banyak sekali Polisi Wanita (Polwan) yang berkumpul. Sempat berpikir tumben mereka seperti itu.</p>
<p>Sebelum <em>stop</em> di lampu merah, dari kejauhan saya melihat banyak sekali Polwan yang kemudian menghampiri para pengendara kendaraan bermotor yang berhenti di lampu merah. Sempat saya merasa kaget karena saya pikir ada razia atau semacamnya. Ternyata setelah saya mendekat, sayapun dihampiri salah satu dari mereka dan polwan itu menyodorkan semacam kertas yang ternyata adalah selembar brosur.</p>
<p>Isinya kampanye yang bertajuk &#8221; POLWAN bagian dari Komponen Bangsa untuk penghapusan kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak&#8221;. Kampanye itu diselenggarakan selama 16 hari yaitu dari tanggal 25 November hingga 10 Desember 2011 dengan mengambil tema <strong>&#8220;Kekerasan Seksual Kenali dan Tangani&#8221;</strong>. Ternyata saya terlambat mengetahuinya. Mungkin karena sebelumnya saya kurang memperhatikan. <img src='http://apapun.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="size-medium wp-image-90 alignright" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2011/12/16203-300x294.jpg" alt="16203" width="206" height="201" /></p>
<p>Kepedulian semacam ini harus kita sambut dengan mendukungnya. Tulisan inipun untuk mendukung apa yang sudah diupayakan Polri untuk melindungi warganya di Indonesia.</p>
<p>Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan seksual? Mengutip dari brosur yang dibagikan:</p>
<ul>
<li>Ikut mensosialisasikan, memberi pemahaman kepada orang lain tentang dampak kekerasan seksual;</li>
<li>Tidak memberi kesempatan kepada siapapun yang mengarah pada perlakuan tindak kekerasan seksual;</li>
<li>Ikut berpartisipasi dalam berbagai upaya kegiatan pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah.</li>
</ul>
<p>Kemudian, apa yang harus dilakukan bila kita menemui hal itu, mengadu dan mencari pertolongan/perlindungan hukum kemana?</p>
<ul>
<li>Laporkan ke Tokoh Agama/Adat, kelompok masyarakat, PKK, Pondok pesantren, LSM Peduli Perempuan dan Anak Korban Kekerasan;</li>
<li>Mendapat pengobatan dan Bukti Medis Puskesmas/Rumah sakit terdekat;</li>
<li>Melaporkan sebagai kasus hukum ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polsek/Polres/Polda terdekat, selanjutnya Polisi akan melanjutkan Kasus Hukum ke tingkat Pengadilan.</li>
<li>Mendapatkan perlindungan dan pemulihan di <a title="Go to Web" href="http://www.rumahaman.com" target="_blank">Rumah Aman</a>, Pelayanan psiko-sosial oleh PKK, Kelompok Masyarakat/Adat/Pondok Pesantren/LSM peduli perempuan dan Anak korban kekerasan.</li>
</ul>
<p><a title="UNiTE" href="http://saynotoviolence.org/" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-89" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2011/12/unite-300x156.jpg" alt="unite" width="300" height="156" /></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2011/12/09/polwan-untuk-anti-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Moderator detikNews</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/06/04/moderator-detiknews/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/06/04/moderator-detiknews/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 16:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Terlintas saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Tadi sore saya membaca artikel mengenai serangan Israel terhadap Palestina. Saya tidak akan berkomentar mengenai konflik tersebut, tetapi lebih kepada tanggapan tentang berita itu.
Saya merasa risih ketika membaca komentar-komentar rekan-rekan kita. Sebagian saling menyinggung tentang agama. Apakah pihak moderator detikNews bisa lebih ketat memoderasi komentar-komentar yang demikian itu sebelum dipublikasikan melalui detik.com? Saya seringkali menemui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi sore saya membaca artikel mengenai serangan Israel terhadap Palestina. Saya tidak akan berkomentar mengenai konflik tersebut, tetapi lebih kepada tanggapan tentang berita itu.</p>
<p>Saya merasa risih ketika membaca <a title="http://www.detiknews.com/commentpaging/2010/06/04/134935/1369773/10/2/bawa-bantuan-rp-1-m-4-relawan-diberangkatkan-lagi-ke-palestina" href="http://www.detiknews.com/commentpaging/2010/06/04/134935/1369773/10/2/bawa-bantuan-rp-1-m-4-relawan-diberangkatkan-lagi-ke-palestina" target="_blank">komentar-komentar</a> rekan-rekan kita. Sebagian saling menyinggung tentang agama. Apakah pihak moderator detikNews bisa lebih ketat memoderasi komentar-komentar yang demikian itu sebelum dipublikasikan melalui <a title="go to www.detik.com" href="http://www.detik.com" target="_blank">detik.com</a>? Saya seringkali menemui hal-hal yang demikian saat membaca suatu topik. Dan bukan masalah SARA saja, tetapi ada juga pelanggaran etika dan kesopanan didalam bertutur bahasa.</p>
<p>Saya mohon sekali lagi kepada <a title="go to www.detik.com" href="http://www.detik.com" target="_blank">detik.com</a> untuk lebih memperhatikan hal ini demi menjaga kesatuan NKRI.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/06/04/moderator-detiknews/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ikut Aturan Kenapa Susah?</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/05/18/ikut-aturan-kenapa-susah/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/05/18/ikut-aturan-kenapa-susah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 06:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Salkalogi]]></category>

		<category><![CDATA[Terlintas saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Masih mengenai komitmen yang saya bangun untuk Indonesia lewat share yang saya tuliskan sebelumnya. Saya mendapati ternyata sangat susah untuk menjaga komitmen itu. Terkadang saya harus didesak oleh keadaan dimana saya terpaksa harus melanggarnya.
Contoh kecilnya saja ketika saya coba untuk mengendarai sepeda motor ke tempat kerja. Dan kebetulan saya berada di front row disuatu perempatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih mengenai komitmen yang saya bangun untuk Indonesia lewat <em>share</em> yang <a title="Indonesiakah Anda?" href="http://apapun.blogdetik.com/2010/03/13/indonesiakah-anda" target="_self">saya tuliskan sebelumnya</a>. Saya mendapati ternyata sangat susah untuk menjaga komitmen itu. Terkadang saya harus didesak oleh keadaan dimana saya terpaksa harus melanggarnya.</p>
<p>Contoh kecilnya saja ketika saya coba untuk mengendarai sepeda motor ke tempat kerja. Dan kebetulan saya berada di <em>front row</em> disuatu perempatan saat lampu merah menyala, lalu semakin bertumpuklah antrian kendaraan (roda dua) yang menunggu lampu merah berganti hijau. Saking banyaknya, sampai-sampai garis putih batas depan pun sudah tak nampak lagi oleh kendaraan lain yang tahu-tahu sudah ada didepan. Ketika melihat kanan-kiri dari arah berlawanan sudah lengang, merekapun bergegas tancap gas padahal lampu masih merah menyala. Saya yang berusaha menjaga ketertiban dengan tetap berhenti malah diklakson dari belakang tanpa henti, bahkan tak jarang kendaraan yang ada dibelakang saya&#8211;mungkin dengan sengaja&#8211;menyentuhkan ban depannya ke ban belakang sepeda motor saya dengan harapan saya juga ikut menerobos lampu merah itu. Padahal, saya yakin bahwa mereka tahu arti dari nyala lampu merah.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-77" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/05/images-300x90.jpg" alt="images" width="300" height="90" /></p>
<p>Ketika saya memutuskan untuk tak bergeming, orang-orang dibelakang saya malah kemudian memacu kendaraannya dan ketika sudah ada didekat saya, kata-kata makian meluncur ke arah saya. Saya hanya heran saja melihat tingkah orang-orang itu. Memang lampu merahnya lama, namun apakah menjadi legitimasi boleh ketika sisi kanan atau kiri jalanan di perempatan itu sudah tidak ada kendaraan yang melintas, kita dengan seenaknya menerobos lampu merah? Dan ketika ada orang yang taat lalu lintas malah menjadi sasaran kemarahan? Lalu, sudah jadi apakah negeri kita tercinta ini dengan manusia yang katanya berbudi luhur, sopan dan lain sebagainya yang selama ini melekat pada masyarakat kita, namun ternyata tidak demikian adanya?</p>
<p>Teman-teman dari &#8220;negeri seberang&#8221; masih banyak yang membicarakan tentang masalah itu dengan nada prihatin. Sayapun juga merasakan hal yang sama. Tapi bedanya, saya bercampur malu.</p>
<p>Terlepas dari orang lain, yang penting saya ingin terus menjaga komitmen walaupun saya nampaknya harus &#8220;membayar mahal&#8221; untuk melakukannya.</p>
<p>Teman-teman, dukung saya <em>yuk</em>! Mari kita bersama-sama mewujudkan manusia Indonesia yang lebih bermartabat. Mari kita saling menghargai. Kita tunjukkan Indonesia yang sebenar-benarnya kepada dunia!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/05/18/ikut-aturan-kenapa-susah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Tempe dan Si Emping</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/04/10/kisah-tempe-dan-si-emping/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/04/10/kisah-tempe-dan-si-emping/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 12:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<category><![CDATA[April Mop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini buat ngerame-in acaranya JELITA dalam rangka April Mop yang diberi judul &#8220;Very Iseng Person (VIP)&#8221;&#8230;. Semoga makin meriah acaranya&#8230;.  
Kejadiannya udah lama kira-kira taun 2005, tapi masih seger di ingatan. Waktu itu hari masih sore, kayak biasanya sepulang kerja aku nyiapin makan malam sendiri, maklum aja soalnya hidup sendiri di Jakarta dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini buat ngerame-in acaranya <a title="Blog-nya JELITA" href="http://jelita.blogdetik.com/2010/03/22/vip-very-iseng-person/">JELITA</a> dalam rangka April Mop yang diberi judul &#8220;Very Iseng Person (VIP)&#8221;&#8230;. Semoga makin meriah acaranya&#8230;. <img src='http://apapun.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kejadiannya udah lama kira-kira taun 2005, tapi masih seger di ingatan. Waktu itu hari masih sore, kayak biasanya sepulang kerja aku nyiapin makan malam sendiri, maklum aja soalnya hidup sendiri di Jakarta dan kudu ngehemat biaya hidup dengan masak makanan sendiri.</p>
<p>Aku tinggal di mess yang disediain ma kantorku. Aku tinggal ama teman, sebut aja Emping. Si Emping lagi nyari-nyari kerjaan di Jakarta waktu itu dan untuk sementara dengan seijin bos, dia boleh tinggal di mess ama aku.</p>
<p>Sore itu aku rencananya mo bikin sayur lodeh ma goreng tempe.  Trus aku rendem potongan-potongan tempenya pake bumbu di piring. Dan ku diemin aja dulu diatas meja deket dapur. Abis tu kutinggal dulu bentar buat ngobrol-ngobrol ma temen-temen yang lain sementara si Emping lagi mandi.</p>
<p>Waktu itu aku emang berniat buat memperlambat proses masak dengan harapan si  Emping yang memasaknya. Aku berniat buat ngerjain dia sekali-sekali biar dia yang masak, dan aku tau dia bakalan kelabakan ga bisa masak. Karena terus  terang bete juga lama-lama, soalnya dia ga pernah ngebantuin aku masak.</p>
<p>Setelah sekitar 1 jam, aku pun balik lagi ke kamar. Aku liat si Emping udah pegang gitar dan bersenandung. Kayaknya udah damai hatinya, dan beneran dugaanku ketika dia bilang sekalian ijin ke aku kalo dia udah makan duluan karena udah laper banget. Pikirku, si Emping ternyata kurang pengertian juga orangnya. Goreng tempe cuma buat dia aja. Basa-basi kutanya aja sama si Emping, &#8220;Ping, tempenya udah kamu goreng ya? Tapi pada kemana?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tempe yang mana?&#8221;, dia malah nanya balik.</p>
<p>&#8220;Yang itu!&#8221;, jawabku sambil nunjuk kearah rendeman tempe di piring yang tinggal beberapa potong.</p>
<p>&#8220;Hah, digoreng..!?! Jadi itu masih mentah ya?!&#8221;, tanyanya lagi, &#8220;Kirain itu sayur tempe..!? Pantesan kok adem&#8230;asin lagi&#8230;!?!&#8221;, tambahnya dengan memperlihatkan ekspresi wajah culun dan agak berminyak itu.</p>
<p>&#8220;Enak ya?&#8221;, tanyaku ngeledekin dia. Si Emping diem aja sambil nahan malu dan masih nunjukin eskpresi wajah lucunya.</p>
<p>Aku pun lantas ketawa ngakak ga brenti-brenti dibuatnya, ternyata tempe yang masih aku rendam dalam bumbu itu dikira sayur tempe ama si Emping. Yang tadinya aku mau marah, enggak jadi deh&#8230; Kalo diperhatiin emang bener kayak sayur tempe, soalnya kan ada di piring, trus warna kuning kunyitnya yang menggoda itu loh yang ngebuat si Emping ngirain itu sayur tempe yang udah mateng.</p>
<p>Kesian juga si Emping, niatnya aku kerjain biar dianya masakin buat aku malah dianya kena jebakan yang lain. Emping&#8230;Emping&#8230; ckckck&#8230;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/04/10/kisah-tempe-dan-si-emping/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rokok lagi, rokok lagi&#8230;</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/17/rokok-lagi-rokok-lagi/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/17/rokok-lagi-rokok-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 08:50:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[Terlintas saja]]></category>

		<category><![CDATA[Rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Sudah banyak yang bicara tentang rokok, yaitu bahaya yang mengintai bagi kesehatan kita. Bahkan dalam waktu dekat akan diberlakukan fatwa haram merokok. Kita tentu semua sadar akan konsekuensi pada saat men-candu-kan diri terhadap rokok. Saya jadi teringat ketika saya mendengarkan ceramah mengenai rokok. Sang pembicara ini malah mengatakan untungnya menjadi perokok. Pikir saya, apa untungnya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-67 alignleft" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/03/cigarette-217x300.jpg" alt="cigarette" width="217" height="300" />Sudah banyak yang bicara tentang rokok, yaitu bahaya yang mengintai bagi kesehatan kita. Bahkan dalam waktu dekat akan diberlakukan fatwa haram merokok. Kita tentu semua sadar akan konsekuensi pada saat men-candu-kan diri terhadap rokok. Saya jadi teringat ketika saya mendengarkan ceramah mengenai rokok. Sang pembicara ini malah mengatakan <strong>untungnya menjadi perokok</strong>. Pikir saya, apa untungnya? Lalu saya pun menyimak apa yang diutarakannya. Kurang lebih begini:</p>
<p>Yang pertama, <strong>seorang perokok tidak akan pernah mendapati rumahnya dibobol </strong><strong>maling</strong>. <em>Kok</em> bisa, hubungannya apa? &#8220;Fakta&#8221;-nya begini, seorang pencuri akan berpikir beribu kali untuk membobol rumah perokok tersebut karena semalam suntuk yang punya rumah batuk-batuk tanpa henti. Sehingga pencuri pun mengurungkan niatnya alias gagal total.</p>
<p>Yang kedua, <strong>seorang perokok tidak akan pernah digigit anjing</strong>. Ini &#8220;fakta&#8221; apa lagi? Begini, saat seorang perokok bertemu dengan anjing yang galak dan anjing itu mengejarnya, maka yang terjadi adalah si anjing tidak tega untuk menggigitnya, karena baru beberapa belas meter berlari, seorang perokok itu sudah <em>ngos-ngosan</em> nafasnya dan menyerah untuk melanjutkan berlari. Si anjing malah menjadi iba, dan kembali ke kandangnya.</p>
<p>Yang terakhir, <strong>seorang perokok tidak akan cepat tua</strong>. Nah, ini idaman setiap orang didunia, bahwa menjadi tua adalah suatu hal yang sebisa mungkin &#8220;diulur-ulur&#8221; waktunya. Tetapi inilah &#8220;fakta&#8221;-nya, seorang perokok memang tidak akan cepat tua karena dia mati muda.</p>
<p>Wah, ada-ada saja ceritanya. Mungkin saking susahnya menasehati orang yang sudah kecanduan rokok. Saya pun sering mendapati dialog dalam adegan di film barat. Di sebuah <em>scene</em> dikisahkan seorang perokok dinasehati oleh rekannya bahwa merokok itu tidak baik bagi kesehatan yaitu dia akan kena serangan jantung, impotensi dan lain sebagainya. Namun kata perokok itu kepada temannya yang menasehatinya: &#8220;Lalu, apakah kamu akan hidup selamanya?&#8221;</p>
<p style="text-align: center">
<p>Terkadang maksud baik kita memberikan nasehat yang baik untuk tidak merokok kepada teman, sahabat, atau keluarga yang merokok dianggap sebagai &#8220;angin lalu&#8221; saja.  Bahkan mereka seringkali merasa tidak akan bisa berhenti. Padahal banyak contohnya yang sudah sukses berhenti merokok. Yang penting adalah niat hati. Dengan melihat samping kiri dan kanan kita yang adalah orang tua, saudara, anak, istri, teman yang kita cintai yang ikut merasakan imbasnya asap rokok yang kita hisap dan keluarkan, pasti akan menggugah hati kita untuk memiliki niat hati berhenti merokok. Bersediakah kita demi mereka?</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/17/rokok-lagi-rokok-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesiakah Anda?</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/13/indonesiakah-anda/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/13/indonesiakah-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 13:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Salkalogi]]></category>

		<category><![CDATA[Terlintas saja]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>

		<category><![CDATA[malu]]></category>

		<category><![CDATA[Sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan ini terus menggelitik hati saya, dan sayapun akhirnya merenungkannya. Iya ya, Indonesiakah saya?!
Pada kenyataannya saya adalah memang Warga Negara Indonesia (WNI) - menurut KTP. Tapi apa yang sudah saya lakukan terhadap negeri ini? Saya pun mulai menghitung kontribusi (walaupun tidak spektakuler) saya terhadap Indonesia. Akan tetapi, ternyata bukan kontribusi yang menduduki peringkat teratas, melainkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan ini terus menggelitik hati saya, dan sayapun akhirnya merenungkannya. Iya ya, Indonesiakah saya?!</p>
<p>Pada kenyataannya saya adalah memang Warga Negara Indonesia (WNI) - menurut KTP. Tapi apa yang sudah saya lakukan terhadap negeri ini? Saya pun mulai menghitung kontribusi (walaupun tidak spektakuler) saya terhadap Indonesia. Akan tetapi, ternyata bukan kontribusi yang menduduki peringkat teratas, melainkan tindakan yang kurang mendapatkan apresiasi, sekecil apapun itu.</p>
<p>Saya pengguna lalu lintas, tetapi tak jarang saya melanggar rambu-rambu lalu lintas, baik itu menerobos lampu merah (karena ikut-ikutan yang lain <em>sih</em>, tapi ya tetap saja melanggar namanya&#8230;), melewati batas maksimal kecepatan, terkadang melawan arus (karena malas mencari putar balik, jauh&#8230;).</p>
<p>Ketika saya memutuskan untuk menggunakan angkutan umum, saya memberhentikannya seenak saya karena malas jalan jauh ke halte, dan angkutan umum itu pun menurut saja diberhentikan. Akibatnya, macet. Bahkan kalau angkutan umum itu berhenti mendadak, tak jarang mengakibatkan kecelakaan.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-65" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/03/menyeberang11-300x174.jpg" alt="Menyeberang" width="284" height="165" /></p>
<p>Saat hendak menyeberang jalan, pokoknya dimanapun saya mau menyeberang ya tinggal menyeberang saja. Bahkan kalo perlu, pagar yang ada ditengah jalan yang memagari taman pun saya loncati. Karena malas kalau harus menyeberang melewati jembatan penyeberangan atau <em>zebra cross</em>.</p>
<p>Saya juga malas ketika sehabis memakan sesuatu di perjalanan saya harus membawa sampah kecilnya, seperti bungkus permen, tisu atau plastik pembungkus makanan. Saya langsung saja membuangnya dimanapun saya mau. Pikir saya, toh hanya sedikit dan t<img class="size-full wp-image-64 alignright" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/03/busamsem1.jpg" alt="Buang sampah" width="124" height="113" />idak ada yang mempedulikannya. Nanti juga tersapu sendiri oleh angin maupun hujan, <em>kan</em> beres. Demikian halnya dengan minuman, gelas dan botol plastik bekasnya pun sering saja saya lempar ke pojokan. Paling-paling nanti juga diambil pemulung, pikir saya.</p>
<p>Saya mulai terbiasa dengan hal-hal itu. Karena saya pikir, orang lain pun melakukannya, kenapa saya tidak? Papan peringatan yang melarangnya jadi tak lebih sekadar papan penghias sudut kota.</p>
<p>Sekarang, saya merasa bersalah dengan negeri ini karena melakukan hal-hal itu. Saya malu menyebut diri seorang Indonesia, yang selama ini saya teriakkan ke orang asing bahwa negeri Indonesia adalah negeri yang santun, ramah, menjunjung tinggi adat ketimuran. Saya bukan Indonesia kalau saya menghancurkannya.</p>
<p>Saya harap, dengan melakukan hal yang positif, walaupun dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, bisa membawa dampak yang besar bagi negeri tercinta Indonesia. Yang terpenting adalah komitmen. Majulah Indonesiaku!</p>
<p>-Setia pada hal yang kecil-</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/13/indonesiakah-anda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Efek Samping Obat (Istilah Awamnya?)</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/02/efek-samping-obat-istilah-awamnya/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/02/efek-samping-obat-istilah-awamnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 04:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[Terlintas saja]]></category>

		<category><![CDATA[efek samping]]></category>

		<category><![CDATA[istilah medis]]></category>

		<category><![CDATA[Obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca, baru saja saya terserang influenza, batuk, pusing dan gejala lain yang menyertainya. Saya seperti biasa langsung membeli obat flu yang dijual bebas dipasaran.  Namun saat saya memperhatikan Warning box, kontra indikasi dan efek samping obat yang tercantum dalam strip atau brosur obat tersebut, saya jadi bingung oleh karena istilah-istilah yang tercantum disana. Apakah Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembaca, baru saja saya terserang influenza, batuk, pusing dan gejala lain yang menyertainya. Saya seperti biasa langsung membeli obat flu yang dijual bebas dipasaran.  Namun saat saya memperhatikan <em>Warning box, </em>kontra indikasi dan efek samping obat yang tercantum dalam strip atau brosur obat tersebut, saya jadi bingung oleh karena istilah-istilah yang tercantum disana. Apakah Anda juga mengalami hal yang sama?</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-55" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/03/hen-2-300x267.jpg" alt="Med" width="300" height="267" /></p>
<p>Apabila saya bergerak dibidang medis, tentu saja saya bisa dengan mudah mengetahui istilah-istilah yang tertera disana. Tetapi bayangkan saja, saya dan masih banyak lagi yang lain yang tidak mengetahuinya, tentu obat tersebut menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi karena ke-awam-an masyarakat kita yang kemudian mengkonsumsi obat yang &#8220;sudah biasa&#8221; mereka konsumsi, ternyata mereka mungkin sedang mengalami gangguan hati atau tekanan darah tinggi, bisa dibayangkan apa yang bisa terjadi. Mungkin ada yang karena keterbatasan ekonomi menjadi <em>cuek</em> saja mengkonsumsinya, tanpa memperhatikan atau malah memang karena faktor ketidaktahuan itu tadi.</p>
<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-56" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/03/hen-3-150x150.jpg" alt="Med-2" width="150" height="150" /></p>
<p>Pernahkah Anda menemukan kata-kata berikut ini (cetak miring) dikemasan atau brosur obat?</p>
<p>&#8220;&#8230;Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat <em>simpatomimetik</em> lain&#8230;.</p>
<p>&#8230;obat anti <em>depresan </em>tipe penghambat <em>MAO</em>&#8230;</p>
<p>Efek samping: &#8230;<em>eksitasi, tremor, takikardi, aritmia, palpitasi, retensi </em>urine&#8230;&#8221;</p>
<p>Mungkin kita yang walaupun awam tetapi masih bisa memanfaatkan teknologi internet sebagai media pencari informasi, maka kita pun bisa menjadi lebih hati-hati dengan membaca referensi dari berbagai sumber. Atau kita dapat segera menghubungi dokter untuk mendapatkan informasinya. Tetapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang &#8220;jauh&#8221; dari teknologi dan dokter karena faktor ekonomi?</p>
<p>Alangkah baiknya apabila istilah-istilah medis tersebut dibahasakan dengan &#8220;jelas&#8221; supaya tidak ada lagi hal yang &#8220;terselubung&#8221;, dan masyarakat Indonesia pun bisa dengan mudah memahami manfaat maupun efek samping yang ditimbulkan obat tertentu dengan membaca indikasi, kontra indikasi dan keterangan yang tertera pada obat yang akan dikonsumsi.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/03/02/efek-samping-obat-istilah-awamnya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cuaca (Seberapa burukkah?)</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/23/cuaca-seberapa-burukkah/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/23/cuaca-seberapa-burukkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 05:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Salkalogi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kemudian muncul dibenak kita, ketika kita mendengarkan pembicaraan mengenai cuaca buruk yah? Pikiran kita pasti langsung mengarah pada situasi dimana kita tidak dapat beraktifitas seperti biasanya karena mungkin ada hujan deras, badai, angin puyuh, petir menyambar, angin puting beliung, mendung yang sedemikian gelapnya dan lain sebagainya.

Keadaan-keadaan seperti ini sudah terlanjur kita cap sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kemudian muncul dibenak kita, ketika kita mendengarkan pembicaraan mengenai <strong>cuaca buruk </strong>yah? Pikiran kita pasti langsung mengarah pada situasi dimana kita tidak dapat beraktifitas seperti biasanya karena mungkin ada hujan deras, badai, angin puyuh, petir menyambar, angin puting beliung, mendung yang sedemikian gelapnya dan lain sebagainya.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-52" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/02/cuaca-extrim-300x165.jpg" alt="Petir" width="300" height="165" /></p>
<p>Keadaan-keadaan seperti ini sudah terlanjur kita cap sebagai cuaca buruk. Menurut saya, <em>mindset</em> ini seharusnya dikoreksi. Lalu, apa salahnya beranggapan seperti itu?</p>
<p>Di alam <em>&#8216;kan</em> kita kenal dengan yang namanya siklus. Siklus yang terjadi semestinya bermanfaat untuk menunjang kehidupan yang ada didalam alam itu sendiri. Tanpa siklus, maka alam tidak akan bertumbuh, berkembang dan berbuah.</p>
<p>Bumi tempat kita hidup, yang kita nikmati seperti keberadaannya sekarang ini bukanlah tanpa proses suatu siklus.</p>
<p>Kelihatannya memang suatu hal yang mengerikan ketika ada hujan deras, badai dan sebagainya, tetapi pada kenyataannya dengan cara yang demikianlah alam memberikan yang terbaik bagi kelangsungan hidup ekosistem dan juga habitat yang ada didalamnya.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-53" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/02/cuaca-extrim2-300x225.jpg" alt="cuaca 2" width="300" height="225" /></p>
<p>Menurut saya, sangatlah kurang tepat bila kita menganggap bahwa cuaca yang sedemikian itu tadi sebagai suatu hal yang buruk. Mungkin memang pada saat terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut menjadikan suatu keadaan yang tidak kondusif atau tidak mendukung aktifitas kita, apapun itu. Ataupun juga terjadi suatu kerugian material yang diakibatkannya. Tetapi pada dasarnya hal yang kita anggap buruk yang terjadi karena alam (cuaca), bukanlah hal yang memang buruk adanya. Selalu yang terbaik yang termaksudkan ketika hal-hal itu terjadi. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.</p>
<p>Akan lebih <em>menenangkan </em> apabila kita katakan, cuaca sedang tidak kondusif walaupun memang dalam kondisi-kondisi seperti itu banyak hal yang terjadi sebagai akibat dari siklus alam itu. Tetapi sikap hati-hati serta waspada akan membuat kita tetap pada kondisi kita.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/23/cuaca-seberapa-burukkah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Jawa di Google</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/15/bahasa-jawa-di-google/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/15/bahasa-jawa-di-google/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 06:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Salkalogi]]></category>

		<category><![CDATA[Terlintas saja]]></category>

		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[Bahasa Jawa]]></category>

		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<category><![CDATA[ejaan]]></category>

		<category><![CDATA[fonem]]></category>

		<category><![CDATA[lafal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Tertarik dengan fitur Google Basa Jawa, saya pun sangat menghargai upaya Google Indonesia dalam melestarikan Bahasa Jawa sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Namun, ada beberapa hal yang saya maksudkan sebagai saran dan masukan serta urun rembug untuk Google Basa Jawa, yaitu mengenai pengejaan kata dalam Bahasa Jawa.

Sebagaimana kita lihat diatas, pada halaman utama terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tertarik dengan fitur <a href="http://www.google.co.id/">Google Basa Jawa</a>, saya pun sangat menghargai upaya Google Indonesia dalam melestarikan Bahasa Jawa sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya.</p>
<p>Namun, ada beberapa hal yang saya maksudkan sebagai saran dan masukan serta <em>urun rembug </em>untuk Google Basa Jawa, yaitu mengenai pengejaan kata dalam Bahasa Jawa.</p>
<p><a href="http://www.google.com"><img class="aligncenter size-large wp-image-51" src="http://apapun.blogdetik.com/files/2010/02/untitled-12-1024x677.jpg" alt="Google.com" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Sebagaimana kita lihat diatas, pada halaman utama terdapat frase <strong><em>Google Nggoleki</em></strong>. Disini yang ingin saya berikan saran untuk kemajuan Google Basa Jawa adalah apabila penulisan kata yang menggunakan huruf vokal <strong>e</strong> (bukan pada kata <em>Google-</em>nya), penulisan kata dalam bahasa Jawa terdapat tanda baca tersendiri menurut pengucapannya.</p>
<p>Ada tiga jenis vokal <strong>e </strong>yaitu <strong>e; é; </strong>dan<strong> è</strong>. Yang masing-masing mempunyai bunyi yang berbeda. Misalnya saja apabila kita melihat tampilan utama Google Basa Jawa seperti diatas, ada frase <strong><em>Google Nggoleki</em></strong>. Huruf vokal <strong><em>e</em></strong> pada kata <strong><em>nggoleki</em></strong> berbunyi <strong>/ɛ/,</strong> dibaca seperti vokal <strong>e</strong> pada kata <strong><em>aneh</em></strong>. Dan penulisan yang benar adalah<strong> <em>nggolèki</em></strong>.</p>
<p>Yang berikutnya adalah, terdapat pilihan <em><strong>Kula kroso bejo</strong></em>. Ejaan ini juga perlu dikoreksi. Kata <em><strong>Kula</strong></em> sudah benar ejaannya. Namun untuk kata kedua dan ketiga mengapa menjadi salah eja? Seharusnya kata <strong><em>Kroso</em></strong> ditulis <strong><em>Krasa</em></strong> dan <strong><em>Bejo</em></strong> menjadi <strong><em>Beja</em></strong>. Memang, pelafalan kata-kata tersebut adalah <strong><em>Kroso bejo</em></strong>&#8211;yang mana huruf vokal <strong>o</strong> disini diucapkan seperti huruf vokal <strong>o</strong> pada kata t<strong>o</strong>l<strong>o</strong>ng&#8211; namun tata cara pengejaannya bukan seperti pengucapannya.<br />
Apabila kita mengacu pada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fonem">fonem</a> maka bunyi yang dihasilkan untuk kalimat <strong><em>Kula krasa beja</em></strong> apabila dilafalkan akan menjadi <strong>/kulɔ krɔsɔ bədʒɔ/</strong>.</p>
<p>Dengan demikian semoga bermanfaat bagi luasnya khasanah budaya Jawa yang menjadi bagian dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan terlebih untuk kemajuan Google Basa Jawa.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/15/bahasa-jawa-di-google/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Dirimu</title>
		<link>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/13/satu-dirimu/</link>
		<comments>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/13/satu-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 08:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gènn Hin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[L'amour]]></category>

		<category><![CDATA[Asmara]]></category>

		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<category><![CDATA[Kasih]]></category>

		<category><![CDATA[Rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apapun.blogdetik.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Cinta&#8230;
Dapatkah kau rasakan desiran angin yang menggetarkan perasaanku yang tak pernah pudar ini kepadamu? Karena setiap kali ia berhembus, ku titipkan aroma wangi cinta kita padanya, supaya kau tau.
Cinta&#8230;
Coba dengarkan rintik hujan yang menyelaraskan harmoni kasih kita dan seusai hujan sirna, hangatnya sinar mentari melukiskan pelangi asmara kita. Rona warna-warni cemerlangnya melambangkan tanda kekal akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta&#8230;<br />
Dapatkah kau rasakan desiran angin yang menggetarkan perasaanku yang tak pernah pudar ini kepadamu? Karena setiap kali ia berhembus, ku titipkan aroma wangi cinta kita padanya, supaya kau tau.</p>
<p>Cinta&#8230;<br />
Coba dengarkan rintik hujan yang menyelaraskan harmoni kasih kita dan seusai hujan sirna, hangatnya sinar mentari melukiskan pelangi asmara kita. Rona warna-warni cemerlangnya melambangkan tanda kekal akan janji-janji yang kita rajut bersama.</p>
<p>Cinta&#8230;<br />
Parasmu buatku rindu, jelita senyummu buatku ingin bertemu. Adakah kau rasa yang ku rasa?</p>
<p>Cinta&#8230;<br />
Sungguh tak hendak kubiarkan gelora hati ini pupus. Tak ingin pula ku hempaskan gejolak jiwaku. Asal kau tahu, segenap raga jiwaku menginginkan hanya dirimu&#8230;ya, hanya dirimu&#8230; satu dalam putih suci cawan kemesraan yang bertabur bunga api cinta. Hingga sampai pada kesudahannya&#8230;sampai akhir segala masa&#8230;seutuh cintaku untukmu&#8230;</p>
<p>&#8221;&#8217;wujud partisipasi dalam <em>event</em> <a href="http://idana.blogdetik.com/2010/01/31/berbagi-cinta/">Berbagi Cinta</a>-nya mbak Ida,,,</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apapun.blogdetik.com/2010/02/13/satu-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.627 seconds -->

