Masih mengenai komitmen yang saya bangun untuk Indonesia lewat share yang saya tuliskan sebelumnya. Saya mendapati ternyata sangat susah untuk menjaga komitmen itu. Terkadang saya harus didesak oleh keadaan dimana saya terpaksa harus melanggarnya.
Contoh kecilnya saja ketika saya coba untuk mengendarai sepeda motor ke tempat kerja. Dan kebetulan saya berada di front row disuatu perempatan saat lampu merah menyala, lalu semakin bertumpuklah antrian kendaraan (roda dua) yang menunggu lampu merah berganti hijau. Saking banyaknya, sampai-sampai garis putih batas depan pun sudah tak nampak lagi oleh kendaraan lain yang tahu-tahu sudah ada didepan. Ketika melihat kanan-kiri dari arah berlawanan sudah lengang, merekapun bergegas tancap gas padahal lampu masih merah menyala. Saya yang berusaha menjaga ketertiban dengan tetap berhenti malah diklakson dari belakang tanpa henti, bahkan tak jarang kendaraan yang ada dibelakang saya–mungkin dengan sengaja–menyentuhkan ban depannya ke ban belakang sepeda motor saya dengan harapan saya juga ikut menerobos lampu merah itu. Padahal, saya yakin bahwa mereka tahu arti dari nyala lampu merah.

Ketika saya memutuskan untuk tak bergeming, orang-orang dibelakang saya malah kemudian memacu kendaraannya dan ketika sudah ada didekat saya, kata-kata makian meluncur ke arah saya. Saya hanya heran saja melihat tingkah orang-orang itu. Memang lampu merahnya lama, namun apakah menjadi legitimasi boleh ketika sisi kanan atau kiri jalanan di perempatan itu sudah tidak ada kendaraan yang melintas, kita dengan seenaknya menerobos lampu merah? Dan ketika ada orang yang taat lalu lintas malah menjadi sasaran kemarahan? Lalu, sudah jadi apakah negeri kita tercinta ini dengan manusia yang katanya berbudi luhur, sopan dan lain sebagainya yang selama ini melekat pada masyarakat kita, namun ternyata tidak demikian adanya?
Teman-teman dari “negeri seberang” masih banyak yang membicarakan tentang masalah itu dengan nada prihatin. Sayapun juga merasakan hal yang sama. Tapi bedanya, saya bercampur malu.
Terlepas dari orang lain, yang penting saya ingin terus menjaga komitmen walaupun saya nampaknya harus “membayar mahal” untuk melakukannya.
Teman-teman, dukung saya yuk! Mari kita bersama-sama mewujudkan manusia Indonesia yang lebih bermartabat. Mari kita saling menghargai. Kita tunjukkan Indonesia yang sebenar-benarnya kepada dunia!







